Amida adalah suatu jenis senyawa kimia yang dapat memiliki dua
pengertian. Jenis pertama adalah gugus fungsional organik yang memiliki gugus karbonil (C=O) yang berikatan dengan suatu atom
nitrogen (N), atau suatu senyawa yang
mengandung gugus fungsional ini. Jenis kedua adalah suatu bentuk anion
nitrogen.
Ditinjau dari strukturnya turunan asam karboksilat merupakan senyawa yang
diperoleh dari hasil pergantian gugus -OH dalam rumus struktur R-C-OOH oleh
gugus X (halogen), -NH2 OR’, atau –OOCR. Masing-masing asil penggantian
merupakan kelompok senyawa yang berbeda sifatnya dan berturut-turut dinamakan
kelompok halida asam (R-COX), amida (RCONH2) ester (RCOOR’), dan anhidrida asam
karboksilat (RCOOORCR).
SIFAT
FISIK AMIDA
1. Titik didihnya tinggi
Amida mudah
membentuk ikatan hidrogen sehingga titik didihnya tinggi dibandingkan senyawa
lain dengan bobot molekul yang sama, namun bila terdapat subtituen aktif pada
atom nitrogennya maka titik didih dan titik lelehnya cenderung menurun karena
kemampuan untuk membentuk ikatan hidrogen juga menurun.
2. Polar
3. Mudah larut di dalam
air karena dengan adanya gugus C=O dan N-H memungkinkan terbentuknya ikatan
hidrogen.
4. Umumnya berupa padat pada suhu kamar.
Semua turunan asam karboksilat dapat larut dalam pelarut organik,
sedangkan dalam air kelarutannya tergantung pada jumlah atom karbon yang
terdapat dalam molekulnya. Sebagai contoh, untuk kelompok senyawa ester yang
mengandung 3-5 atom C dapat larut dalam air, tetapi untuk kelompok senyawa
amida yang larut dalam air adalah memiliki 5-6 atom C.
SIFAT KIMIA AMIDA
Amida bereaksi
dengan nukleofil, misalnya dapat dihidrolisis dengan air. Amida dapat direduksi
dengan litium anhidrida menghasilkan amina. Kegunaan Amida Amida yang
sangat terkenal adalah ureum (urea), yaitu suatu diamida dari suatu asam
karbonat. Urea merupakan padatan kristal tak berwarna, dan merupakan
hasil akhir metabolisme protein. Orang dewasa rata-rata menghasilkan 30 g urea
dalam air seni-nya sehari-hari. Urea dihasilkan besar-besaran untuk pupuk.pada
tanaman-tanaman pertanian dan perkebunan. Urea juga digunakan sebagai bahan
baku pembuatan obat dan plastik.
Turunan-turunan
asamkarboksilat memiliki stabilitas dan reaktifitas yang berbeda tergantung
pada gugus yangmelekat pada gugus karbonil. Stabilitas dan reaktifitas memiliki
hubungan terbalik, yangberarti bahwa senyawa yang lebih stabil umumnya kurang
reaktif dan sebaliknya. Karena asilhalida adalah kelompok paling tidak stabil,
masuk akal bahwa senyawa ini dapat secara kimiadiubah ke jenis lain. Karena
amida adalah jenis yang paling stabil, secara logis harusmengikuti bahwa amida
tidak dapat dengan mudah berubah menjadi jenis molekul lain.Stabilitas semua
jenis asam karboksilat derivatif umumnya ditentukan oleh kemampuankelompok fungsional
untuk menyumbangkan elektron ke seluruh molekul. Pada dasarnya,semakin
elektronegatif atom atau kelompok yang melekat pada gugus karbonil maka
molekulakan kurang stabil. Hal ini mudah menjelaskan fakta bahwa asil halida
yang paling reaktif karena halida biasanya cukup elektronegatif.
SINTESIS AMIDA
Senyawa
amida dapat disintesis dengan beberapa cara yaitu dengan dehidrasi garam
ammonium, dimana asam karboksilat dicampur dengan amina akan
diperoleh garam ammonium yang kemudian didehidrasi membentuk senyawa
amida. Menurut Fessenden, R.J. dan Fessenden, J.S. (1986) amida dapat
disintesis dengan mereaksikan antara ester dengan amoniak cair dan
menghasilkan hasil samping etanol. Amida juga dapat disintesis dengan
turunan asam karboksilat lainnya seperti anhidrida asam halida asam dengan
amoniak cair.
Sintesis
senyawa amida telah banyak dilakukan oleh peneliti sebelumnya,
diantaranya adalah Sintesis senyawa amida dari trigliserida telah
dilakukan oleh Farizal (2004), dimana senyawa amida dibuat dengan
mereaksikan antara trigliserida dengan amoniak berlebih dengan berbagai
variasi waktu dan suhu tetapi tanpa menggunakan katalis. Hal yang sama
juga telah dilakukan oleh Makmun, S.W (2004) yang mensintesis senyawa
fatty amida dari minyak kelapa sawit dengan metode yang sama yaitu dengan
mereaksikan metil oleat dengan amoniak berlebih tetapi
tanpa penggunaan pelarut dan katalis, dimana mengalami kesulitan karena
konsentrasi lemak yang tinggi sehingga reaksinya dengan amoniak
kemungkinan akan membutuhkan energi yang sangat besar. Manihuruk (2009)
juga telah berhasil mensintesis asam azelat dengan amoniak bertekanan
menggunakan katalis nikel pada suhu 1800C senyawa ini mempunyai
2 gugus karboksil, reaksi asam azelat dengan ammoniak tersebut menghasilkan
senyawa Nonana-1,9-diamida sebanyak 70,2%. Sintesis dekanamida dari asam
dekanoat juga telah dilakukan oleh manihuruk (2008) yaitu dengan mereaksikan
asam dekanoat (C10H21COOH) dengan amoniak bertekanan menggunakan katalis nikel
berlangsung pada suhu 1500C (Hutauruk,2008).
Karena itu,
dalam penelitian ini senyawa amida disintesis dari asam palmitat, suatu
asam rantai panjang (C15H31COOH), dengan mereaksikan asam palmitat
dengan gas amoniak menggunakan katalis Nikel dilakukan selama 10
jam pada suhu 1800C sehingga diharapkan ikatan N-H dapat dipecah
dengan energi yang lebih rendah dan memudahkan berjalannya reaksi amidasi.
PEMBUATAN AMIDA
Amida umumnya disintesis di
laboratorium melalui beberapa cara :
1. Reaksi
anhidrida dengan ammonia
2. Reaksi
ester dengan ammonia
3. Reaksi
klorida asam dengan ammonia
4. Pemanasan
garam ammonium karboksilat
Senyawa amida memiliki
kegunaan yang luas dalam kehidupan antara lain dapat berguna dalam
pembuatan obat-obatan seperti sulfoamida
yang digunakan untuk melawan infeksi dalam tubuh manusia, sebagai zat
antara dalam pembuatan amina, sebagai bahan awal dalam pembuatan suatu
polimer seperti palmitamida
yang digunakan sebagai bahan penyerasi pada penguatan karet alam dengan
silika.
Ada juga Formamida yang digunakan
sebagai pelarut dan juga untuk bahan pelunak. Dan Asetamida banyak
sekali diperlukan dalam sintesis senyawa organik, baik sebagai pereaksi maupun
pelarut dan juga untuk bahan pembasah.